Colourfully “#88LoveLife”

Judul : #88 Love Life | Penulis : Diana Rikasari | Ilustrator : Dinda Puspitasari | Penerbit : KPG | Cetakan : I, November 2014 | Tebal 128 halaman | ISBN : 9789799107855

Siapa sangka Diana Rikasari, seorang fashion blogger kenamaan Indonesia, akan menerbitkan sebuah buku? Sejak ia membuat sebuah akun Instagram dengan username 88LoveLife, Diana berhasil membuat penggemarnya penasaran. Akun tersebut terus mengunggah ilustrasi-ilustrasi lucu yang menjadi petunjuk project terbarunya, yaitu sebuah buku dengan judul yang sama, #88LoveLife.

Jauhkan dulu pikiran bahwa #88LoveLife akan memuat hal-hal berbau fashion. Dalam buku ini, Diana Rikasari merangkum pemikiran dan pengalaman hidupnya yang selama ini ia tulis dalam blog “Hot Chocolate And Mint” yang telah membesarkan namanya. Tulisan dalam buku ini diformat layaknya kumpulan quote dan motivasi yang tertulis dalam bahasa Inggris yang indah. #88LoveLife mengingatkan pembaca jika hidup akan selalu memberikan tantangan-tantangan yang bermacam-macam. Untuk menghadapinya, Diana memberikan inspirasi kepada para pembacanya untuk selalu berpikiran positif serta menjadi pribadi yang selaluhappy dalam situasi apa pun.

Continue reading

Refleksi Bumi Manusia

Membaca Bumi Manusia seakan menyadarkan kita akan potret derita bangsa yang terjajah, bangsa Indonesia. Diskriminasi, pemerasan, ketidakadilan hukum dan HAM diceritakan dengan begitu apik, sehingga dapat membuat pembacanya larut dan turut membayangkan bagaimana rasanya hidup dalam masa penjajahan yang keji. Pesona novel ini juga tak dapat dilepaskan dari andil tokoh-tokoh utamanya, Minke, Nyai Ontosoro dan Annelis. Sosok Minke dalam novel ini digambarkan begitu dilematis. Minke merupakan putra dari seorang bupati, oleh sebab itulah ia dapat tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, buah atas hak mengenyam bangku pendidikan ala Eropa. Kemasyhuran yang ia nikmati bahkan membuat Minke menutup muka akan jati dirinya sebagai darah murni pribumi. Bangsa Eropa yang diagungkan oleh Minke tetaplah  memandang bahwa orang-orang pribumi tak lebih dari gumpalan daging yang ditakdirkan untuk menjadi budak kulit putih.

Kekuatan novel ini juga dilahirkan Pram melalui nilai-nilai feminisme yang dibangun melalui penempatan tokoh-tokoh perempuan dalam posisi yang apik. Nyai Ontosoro contohnya, peran tersebut seakan menjadi salah satu sumber kharisma dalam novel ini. Nyai Ontosoro merupakan seorang wanita pribumi yang ‘dijual’ oleh keluarganya kepada seorang Belanda. Tak sempat merasakan kenikmatan emansipasi, wanita pribumi pada zaman penjajahan seolah ditakdirkan untuk saklek dan harus patuh pada nasib yang akan diberikan padanya. Meskipun demikian Nyai Ontosoro tidak tinggal diam, selepas menikah ia menyerap banyak ilmu dari suaminya. Ia tumbuh sebagai wanita pribumi yang sangat cerdas, bijaksana, bertangan dingin dan memiliki keagungan pribadi melebihi wanita-wanita Eropa berdarah biru.

Berlarut dengan kisah Bumi Manusia ini dapat membuat kita teringat sekaligus lupa. Teringat dan ikut merasakan kepedihan bangsa kita yang dulu dijajah, dibodohi serta diadu domba sedemikian rupa demi kepentingan orang-orang berkulit putih yang serakah. Namun saya yakin pastilah terbersit rasa syukur dalam diri pembaca, “untung saya tidak hidup di zaman penjajahan, untung sekarang Indonesia sudah merdeka, enak.” Padahal hingga saat ini kita masih terus dijajah, hanya saja kita sering kali lupa hakikat penjajahan karena hal tersebut terus berlangsung dengan cara-cara terselubung dalam kehidupan kita sekarang. Tak hanya bangsa Belanda saja, berbondong-bondong negara-negara lain terus mengeruk kekayaan yang kita punya. Seperti halnya Minke yang kemudian tersadar akan kondisi bangsanya, kita juga senantiasa dituntut untuk selalu memerdekakan bangsa kita sendiri dan tegak sebagai bangsa yang luhur dan berbudaya di atas kuasa sendiri.

Menelisik “Modern Times”

Modern Times, menurut saya, adalah sebuah film yang wajib untuk ditonton. Film yang rilis pada tahun 1936 ini tak hanya menawarkan akting Charlie Chaplin yang kocak dan menghibur, namun juga memuat nilai-nilai esensial yang mewakili kehidupan pada dunia nyata. Secara tidak sadar, kita dihadapkan pada isu-isu penting yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada masa itu. Salah satu sorotan yang intens digambarkan pada film ini adalah mengenai kehidupan masyarakat kelas bawah dan juga buruh.

Tokoh utama Modern Times, Little Tramp dan juga Gamine The Girl dikisahkan sebagai seseorang yang kurang beruntung. Little Tramp begitu miskin, bodoh, sering ditimpa kesialan serta tidak mempunyai keterampilan kerja yang memadai. Hal tersebut membuatnya seringkali harus berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Di lain sisi, Gamine dikisahkan sebagai seorang tunawisma yang ayahnya terbunuh pada sebuah demonstrasi buruh. Kedua sosok tersebut akhirnya berteman dan bersama-sama gigih mencari sumber pendapatan yang, pada masa itu, amat langka.

Continue reading

Ada Representasi Gender dalam Games

Menuntaskan jurnal berjudul Gender in Gamer Culture and the Virtual World memberikan insight yang menarik, bahwa ranah gem adalah bidang yang berhak dan layak untuk dieksplorasi lebih lanjut melalui kacamata disiplin ilmu komunikasi. Benang merah dari tulisan  Nicholas Maisonave ini berusaha memaparkan representsi gender dalam gem serta bagaimana fakta-fakta lain berkolaborasi membentuk sebuah cerminan budaya yang lahir dari dunia virtual.

Gender merupakan isu yang menarik untuk ditelaah. Perbincangan gender adalah salah satu topik populer dalam disiplin ilmu sosial dan humaniora. Namun, mengaji isu gender dalam dunia gem terbilang hal yang baru, bahkan mungkin seringkali tak terpikirkan bagi masyarakat awam (mungkin karena anggapan gem hanyalah hal remeh untuk menghibur / mengisi waktu luang). Meskipun bukan pelopor dalam membahas topik ini, usaha Maisonave dalam memaparkan topik ini patut diapresiasi.

Continue reading

Humans of New York, Humans of World

Pernahkah kita duduk di tengah keramaian, memandangi orang-orang  yang berlalu lalang dan membayangkan bagaimanakah hidup mereka, apa ambisi mereka, atau apa yang mereka rasakan? Di belahan dunia yang lain, tepatnya nun jauh di New York sana, seseorang (bernama Brandon) berinisiatif untuk melakukan sebuah proyek. Lebih dari sekedar melamun dan mengamati orang-orang di sekitarnya, setiap hari ia menjelajah sudut-sudut kota New York, menyapa dan berbincang dengan penduduk kota tersebut untuk menanyakan beberapa kisah hidup lawan bicaranya.

Menurut saya, Human of New York merupakan sebuah proyek yang menarik, mereka mampu menyampaikan sisi humanis manusia dengan manis. Di balik langkah manula menyisir trotoar, di balik tawa sepasang sahabat yang sedang piknik di taman, ataupun di balik lamunan wanita yang sedang mengantri segelas Starbucks, di balik semua wajah manusia-manusia modern tersebut, mereka mengalami berbagai macam peristiwa, yang membuat mereka tetap menyandang predikat sebagai ‘manusia biasa’.

Continue reading